Di Indonesia, dua tren yang seolah-olah bertentangan sedang marak terjadi di waktu yang sama: brain drain dan brainrot. I can’t help but wonder why, so I decided to drown myself in reading more about this topic, dan akhirnya memutuskan untuk membahasnya dalam satu blog post. Di satu spektrum, individu ambis, berbakat, dan progresif mulai mempersiapkan diri untuk #kaburajadulu, mencari kesempatan yang lebih baik di luar negeri. Sementara di spektrum lain, banyak individu yang malah mentally checking out, menenggelamkan diri dalam lautan video TikTok, thread-thread gosip dan perselingkuhan, serta meme culture, fully embracing brainrot.
Dua respons berbeda, tapi ironisnya, mereka datang dari satu akar masalah yang sama: sebuah sistem yang gagal mengelola bakat dan peluang buat rakyatnya.
Brain Drain: The Smart Escape
Brain drain isn’t just an abstract economic term, guys. It’s a lived reality for many Indonesians. Ini terjadi saat orang-orang berbakat seperti profesional, kreatif, dan akademisi memutuskan untuk pindah ke luar negeri demi pendapatan yang lebih tinggi, lingkungan kerja yang lebih sehat, dan peluang karir yang lebih luas. Tapi nggak cuma itu, banyak aspek kehidupan sehari-hari yang juga jadi pertimbangan seperti transportasi umum yang aman, nyaman, murah, dan mudah, serta tentu saja rasa aman secara umum dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
And no, it’s not about being proud of living abroad.
Kenapa mereka memilih pergi? The answer is simple: because staying means settling for less.
- Gaji kecil, jenjang karir yang nggak menentu – Banyak industri di Indonesia yang gajinya nggak kompetitif dan nggak memberikan jalur karir yang pasti.
- Budaya kerja toxic – kerja rodi, minim apresiasi, dan hierarki yang bikin frustrasi.
- Birokrasi dan korupsi – inovasi sering kali mandek gara-gara aturan yang nggak jelas dan sistem yang ribet.
- Kualitas hidup lebih baik di luar negeri – Pendidikan, kesehatan, bahkan infrastruktur dasar jauh lebih oke dibanding di sini.
Buat banyak orang, brain drain itu bukan soal nggak cinta Indonesia, tapi soal bertahan hidup dan berkembang. Yang bikin frustasi? Kebanyakan dari mereka bahkan nggak mau pergi. They would gladly stay if the system worked for them, not against them.
Brainrot: The Digital Numbing
On the flip side, while some are actively planning their escape, others are simply numbing themselves with mindless entertainment, a.k.a brainrot. Sederhananya, orang-orang ini nggak ‘bisa’ pergi, tapi udah capek berharap banyak sama sistem.
Doomscrolling*, binge-watching, tenggelam di drama sosmed receh dan budaya FOMO, semua ini bukan cuma berperan sebagai hiburan, tapi cara buat kabur dari kenyataan.
Why does brainrot happen, tho?
- Masalah numpuk, solusi nggak ada → yaudah, scrolling sosmed aja.
- Gaji pas-pasan, ekonomi suram → daripada stress, mending nonton TikTok.
- Masa depan nggak jelas → ngapain usaha?
- Capek mental & burnout → hiburan receh jadi satu-satunya pelarian.
So here’s the thing: brainrot itu pelarian yang murah meriah. Nggak butuh visa, nggak perlu ada duit mengendap di tabungan cuma buat menikmati seminggu-dua minggu ‘refreshing’ ke luar negeri. Cukup punya smartphone dan WiFi! Buat yang nggak punya privilege buat kabur, check out mental adalah opsi terbaik yang detik ini pun bisa dilakukan.
*the act of compulsively consuming negative or anxiety-inducing news or content, often leading to stress or pessimism. It’s a term that gained traction during the COVID-19 pandemic when people kept scrolling through bad news.
The Silent Grinders: Thriving Despite the System
Despite all the dreams I keep thinking about, like spending the rest of my life in Norway, I’m proud to say that I’m living in this middle ground. I’m a Silent Grinder. Now, probably you’re one of them too, so let’s talk more about it.
It turns out that brain drain and brainrot aren’t just two sides of the same coin, there’s a middle layer. Ada yang memilih tetap tinggal, tapi nggak menyerah. Orang-orang ini cari cara buat tetap berkembang meski sistemnya bobrok: merekalah The Silent Grinders.
Who?
- Remote Workers & Freelancers: individu yang nggak bergantung sama pasar kerja lokal, jadi ya nggak harus pindah.
- Entrepreneurs & Startups: udah capek nunggu sistem yang bisa suportif, bikin peluang sendiri.
- Creative Professionals (Artists, Writers, Indie Developers): milih bersuara lewat karya, berkarir lewat karya, dan nggak tergantung sama validasi pemerintah.
- People Investing in Self-Sufficiency: individu yang bergerak untuk cari ‘jalan keluar’ sendiri, termasuk adopsi gaya hidup minimalis, cari side hustle, dan cari cara agar setidaknya gak perlu banyak bergesekan dengan sistem yang ada.
- ‘Quiet Quit’ Individuals: Individu yang memutuskan untuk kerja seperti biasa tapi dengan cara mereka sendiri, mereka menolak budaya hustle yang nggak sehat. So basically, these are the people most prone to ‘mentally checking out’.
But How?
Well, Silent Grinders adalah orang-orang yang:
- Memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia tapi bikin jalannya sendiri untuk berkembang
- Memanfaatkan peluang global tanpa harus pindah ke luar negeri
- Bangun sesuatu yang meaningful meski banyak keterbatasan. Startup lokal, seniman, studio kreatif, konten kreator yang punya dampak positif, dll)
- Tetap melibatkan diri sama dunia tapi nggak membiarkan diri mereka untuk mentally checking out, lebih peduli pada progress dan berkontribusi secara aktif.
So, Are The Silent Grinders Giving Up?
YES on the system. NO on themselves.
They are realists, not idealists. Mereka tahu sistemnya gak sempurna, tapi mereka nggak mau jadi korban. Daripada nunggu perubahan, mereka bikin kemenangan kecil setiap hari.
And honestly, these are the people I admire so much. They totally can go! Tapi memutuskan untuk tinggal di negara yang belum bisa menjamin keselamatan, kebahagiaan, dan kepastian dari segala aspek itu nggak mudah. Everything seems to be a single fighter kind of fight.
The Ironic Cycle of a Mismanaged System
Ironisnya? Brain drain, brainrot, dan silent grinder itu nggak bertentangan satu sama lain, mereka justru saling berhubungan.
- Orang-orang berbakat pergi untuk tinggal ke luar negeri
- Ekosistem dalam negeri melemah menjadikan inovasi yang seharusnya dihasilkan oleh orang-orang berbakat ini semakin sedikit, sehingga perkembangan negara menjadi lambat
- Frustasi semakin menumpuk, orang-orang makin tenggelam dalam hiburan tanpa tujuan.
- Produktivitas menurun, ketergantungan digital meningkat.
- Makin banyak yang sadar kalau negara ini susah berkembang
- Silent grinders cari cara sendiri buat bertahan, sementara yang lain memilih pergi, atau malah pasrah.
- Repeat.
This becomes a self-sustaining loop of “gue pengen cabut dari sini” vs “gue udah capek banget mikirin ini” vs “gue harus cari cara sendiri”. You see the irony? We are all tired.
Blame the System, not the Individuals
Sebenernya aku nggak terlalu ingin membahas gimana diskursus #kaburajadulu malah jadi polemik yang penuh pro-kontra. I mean, neither brain drain, brainrot, or silent grinding, is inherently wrong. Jadi, ini bukan soal mencari mana yang benar dan mana yang salah. To me, they’re simply symptoms of a broken system.
Orang-orang ingin pergi bukan karena mereka nggak nasionalis (hello?). Orang-orang yang kecanduan hiburan receh di internet bukan karena mereka malas atau bodoh. Orang-orang yang grinding diam-diam bukan karena mereka suka banget struggle. Semua ini terjadi karena mereka nggak dikasih alasan yang kuat untuk tetap peduli.
Negara dengan sistem yang baik bisa menciptakan insentif untuk mempertahankan talenta-talentanya bertahan, dan di saat bersamaan, juga menciptakan budaya belajar, inovasi, dan pemahaman bahwa ‘we’re all in this together, to be a better nation. Let’s build this country together.” Di dalam hubungan percintaan aja kita butuh kepastian, kok. Why can’t my country man up and give me the assurance I need? Daripada menyalahkan orang-orang yang pengen #kaburajadulu, atau yang suka banget terjebak di TikTok selama berjam-jam, atau yang terlihat gak peduli padahal sedang berusaha bertahan dengan caranya sendiri, pertanyaannya seharusnya begini:
Kenapa negara ini gagal untuk memberikan alasan untuk rakyatnya untuk tetap tinggal dan peduli?
Until that happens: whatever you wanna do: brain drain, brainrot, or even silently grinding, you pick your fighter.
Whoever governs Singapore must have that iron in him. Or give it up. This is not a game of cards. This is your life and mine. I’ve spent a whole lifetime building this and as long as I’m in charge, nobody is going to knock it down.
Lee Kuan Yew, Singapore’s Founding PM.