Entitlement Mentality: Where’s My Reward for Existing?

When I say I don’t give a fuck about other people, it doesn’t necessarily mean I don’t care about what they say, especially when it’s about me.

Aku cukup berpengalaman dengan orang-orang yang punya harapan tinggi terhadap sesuatu, apalagi jika itu berarti aku yang harus memberikannya. Well I usually say no right away, especially when my gut tells me not to.

The problem is, sometimes pity overrides logic. Sebagai seorang INFJ yang berpadu apik dengan karakter dominan Koleris Melankolis, ini adalah salah satu kelemahan terbesarku. Terutama ketika aku mulai berpikir tentang dampaknya di masa depan jika aku gak bantu mereka.

And this is where things often go wrong. The people you help the most are often the ones with entitlement syndrome.

The Entitlement Mindset: Where Does It Come From?

Sebenarnya, ide tulisan ini gak cuma datang dari real-life experiences, tapi juga dari diskusiku sama Ray tentang bagaimana mentalitas entitlement itu bukan sekadar fenomena individu, tapi sesuatu yang terjadi secara kolektif di masyarakat.

And that got us thinking:

“Gimana kalau ini terjadi di Indonesia?”

Honestly, kita gak perlu ngebayangin jauh-jauh. Kita udah sering lihat fenomena entitlement mentality ini dalam bentuk yang lebih ekstrem:

Truk kecelakaan, barang berjatuhan, langsung dijarah. Mirisnya, orang-orang di sekitar datang bukan buat bantuin, tapi buat ngambil apa yang bisa mereka bawa pulang. Bahkan ada yang pulang dulu buat ambil wadah lebih besar biar bisa bawa lebih banyak. Yes you read it right.

Gak peduli itu jeruk, minyak goreng, bahkan durian, responsnya sama: bukan refleks untuk membantu, tapi refleks untuk menjarah (yes these are recent and actually recorded on the news).

Dan ketika media meliput? No shame at all.

@beritajateng_tv Truk pengangkut durian ini alami kecelakaan tunggal di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Kampung Banjarmasin, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan, Lampung, pada Minggu (26/1/2025) malam. Keadaan mobil terbalik dan durian jatuh berserakan. Bukannya menolong sopir, warga sekitar malah sibuk menjarah durian yang jatuh. Tak hanya itu, uang sang sopir sejumlah Rp 1,5 juta raib dicuri. #infoviral #lampungviral #lampunghits #infofakta #infoterupdate #infoindonesia #beritajateng #beritanasional #beritaviral #beritaterupdate #beritaditiktok ♬ original sound – Beritajateng.TV

The Subtle Signs of Entitlement Syndrome

Entitlement doesn’t always look obvious. It doesn’t always come in the form of someone openly demanding things or throwing a tantrum when they don’t get their way. Sometimes, it’s subtle, manipulative, and disguised as helplessness.

Some people expect you to help them just because:

  • You helped them once, so now it’s your responsibility.
  • They think their situation is worse than yours, so you should put them first.
  • They believe they deserve shortcuts because they “work hard” (even if they actually don’t).

At first, they seem grateful. They act like they appreciate your kindness, your guidance, or even your resources. Tapi lama-lama, ada pergeseran sikap. Rasa syukur berubah jadi ekspektasi, lalu berubah lagi jadi demand. Sampai akhirnya, kalau kamu berhenti membantu, kamu dianggap orang jahat atau pelit.

Lho, kok gak bantu aku? Kok kamu pelit ya?

It’s as if your kindness is an obligation. And when you say no, suddenly you’re the bad guy.

Entitlement Mentality vs. Narcissistic Personality Disorder (NPD)

Banyak yang menganggap bahwa Entitlement Mentality itu sama aja dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) karena keduanya punya rasa berhak yang berlebihan. But in reality, it’s two different fields yang sebenarnya bisa saling berhubungan.

👉 Entitlement Mentality

Entitlement mentality lebih condong pada mentalitas atau mindset, bukan gangguan kepribadian. Orang-orang dengan mentalitas ini merasa mereka pantas mendapatkan sesuatu karena simply, ya mereka merasa berhak. Bahkan seringnya tanpa ada usaha yang sepadan.

Mentalitas ini sebenernya bisa berkembang karena social conditioning pada lingkungan, baik itu lingkungan kerja, persahabatan, pernikahan, atau mungkin udah tertanam sejak kecil, melalui pola asuh yang gak baik.

👉 Narcissistic Personality Disorder (NPD)

Berbeda dari entitlement mentality, NPD lebih condong pada gangguan kepribadian klinis yang jauh lebih kompleks. Biasanya, NPD ditandai dengan rasa superioritas berlebihan, kurangnya empati, dan kebutuhan akan validasi yang enggak ada habisnya.

One thing for sure, entitlement adalah salah satu gejalanya, dan NPD lebih ekstrem karena ada unsur manipulasi dan eksploitasi.

As a conclusion, orang dengan entitlement mentality bisa aja enggak narsis, tapi orang dengan NPD hampir selalu punya mental entitlement yang tinggi.

That’s the line.

Why Do Some People Feel So Entitled?

🚩 Overpraising Culture

Ada kultur yang berkembang dan perkembangannya enggak cuma sehari-setahun aja. Pernah dengar ‘Overpraising Culture’? Budaya di mana pujian wajib dilontarkan untuk seseorang, yang bikin seseorang itu percaya bahwa mereka spesial tanpa harus melakukan usaha apapun. Sekali dua kali mungkin enggak jadi masalah, tapi jika hal ini dijadikan kebiasaan dan pada akhirnya menjadi kultur, maka disinilah masalahnya terjadi.

🚩 Lack of Consequences

Kalau seseorang nggak pernah diajarkan konsekuensi, mereka bakal terus merasa berhak dapat sesuatu tanpa perlu usaha lebih. I think there’s no more explanation for this one. Consequences is not a bad thing, ia adalah mekanisme alami yang mengajarkan manusia tentang tanggung jawab.

Kerja asal-asalan? Jangan heran kalau enggak naik gaji.

Gak mau kerja keras? Jangan iri sama orang yang sukses.

Ingin selalu bergantung pada orang lain? Jangan marah kalau suatu hari mereka berhenti membantu.

Tanpa konsekuensi, orang akan terbiasa dengan zona nyaman palsu di mana mereka bisa melakukan apa aja tanpa dampak apapun. Dan ketika akhirnya mereka harus atau terpaksa keluar dari zona itu, mereka enggak siap, so they blame anything and anyone except themselves.

🚩 Instant Gratification Mentality

Zaman sekarang, banyak orang maunya serba cepat: cepat naik gaji, cepat sukses, cepat kaya, cepat viral. Kalau nggak dapat, mereka merasa dizalimi, padahal (mungkin) mereka belum benar-benar berusaha. Again, hal-hal seperti ini pasti ada faktor pendukung lain sehingga kita enggak bisa hanya melihat dari satu faktor aja.

🚩 Toxic Workplaces That Reward the Wrong People

Di beberapa lingkungan kerja, orang yang paling keras menuntut (entah itu karena senioritas atau tenure kerja yang paling lama) seringkali lebih cepat naik dibanding yang benar-benar bekerja keras. Ini bikin mindset entitlement makin berkembang. I should be aware that this is a real problem, so I’ll later talk about manipulative people in a different post.

How Entitlement Mentality Affects Work & Business

Orang dengan entitlement syndrome sering membawa dampak negatif ke lingkungan kerja atau bisnis, seperti:

  • 🚩 Menganggap senioritas lebih penting daripada skill dan kontribusi
  • 🚩 Menuntut promosi tanpa pencapaian yang jelas
  • 🚩 Cepat tersinggung saat dikritik, tapi gampang menyalahkan orang lain
  • 🚩 Merasa lebih pantas mendapatkan kesempatan dibanding orang lain
  • 🚩 Memanfaatkan orang lain untuk keuntungan pribadi, lalu meninggalkan mereka begitu dapat yang diinginkan.

Logically, perbedaannya cukup kontras:

✔️ Orang yang layak naik kelas akan berusaha lebih keras Orang yang entitled akan menuntut lebih banyak

✔️ Orang yang layak berkembang akan menghargai kesempatan Orang yang entitled akan menganggap kesempatan sebagai hak, bukan privilege.

Lessons I Learned: When to Stop Helping

Jadi, kapan kamu harus stop membantu seseorang yang terlalu entitled?

  • Ketika mereka berhenti menghargai bantuanmu. Kalau mereka mulai merasa bantuan mu adalah “hak mereka”, that’s the first and biggest red flag.
  • Ketika mereka lebih banyak menuntut daripada berusaha.
    Kamu bantu mereka sekali, mereka minta dua kali. Kamu bantu dua kali, mereka mulai menggantungkan diri. Tanpa disadari, bantuan kamu akan menjadi sebuah kewajiban.
  • Ketika mereka bikin kamu merasa bersalah karena punya batasan.
    Orang yang benar-benar menghargaimu nggak akan bikin kamu merasa bersalah karena nolak untuk melakukan atau memberikan sesuatu.
  • Ketika mereka nggak pernah introspeksi, hanya menyalahkan keadaan.
    Mereka selalu merasa dunia nggak adil buat mereka, tapi nggak pernah refleksi apakah mereka sudah benar-benar melakukan yang terbaik.

Final Thoughts: Carefully Choose Who You Help

The first rule now I religiously apply to myself: HANYA bantu orang yang memang punya niat tulus untuk berkembang, bukan hanya ingin ‘keuntungan’. Somehow, perkembangan dan keuntungan gak berbanding terbalik, tapi banyak orang yang merasa enggak kuat dalam jalani prosesnya padahal perjalanannya belum selesai.

Yang kedua, kepercayaan itu mahal. Kalau ada orang yang cuma tau meminta tapi enggak pernah menghargai, lebih baik biarkan mereka belajar dengan cara mereka sendiri. 

Yang ketiga, orang yang benar-benar layak dibantu enggak akan pernah membuat kamu merasa bersalah karena berani berkata TIDAK.

More Reading

Post navigation